Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Rabu, (22/6/2016), mengumumkan negaranya akan meningkatkan produksi minyak untuk memenuhi kuota baru yang ditetapkan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC)."Kami harus menurunkan biaya produksi untuk membantu investasi, dan Venezuela akan meningkatkan produksi minyaknya, sementara meningkatkan teknologi dan peralatan yang digunakan," kata Maduro dalam pidato di istana kepresidenan, seperti dilansir oleh Xinhua.Namun tidak dijelaskan berapa kuota pasti yang ditetapkan oleh OPEC atau peningkatan produksi minyak yang akan dicapai. Ia juga menjamin bahwa PDVSA, perusahaan minyak nasional, akan melakukan perbaikan dengan efisiensi maksimum di kilang dan industri petrokimia.Sementara Menteri Minyak dan Pertambangan Venezuela, Eulogio del Pino, mengatakan OPEC telah menunjuk Venezuela karena memiliki strategi penting untuk menyeimbangkan harga barel minyak, yang telah berfluktuasi liar dalam beberapa bulan terakhir. "Kami tidak terikat pada dogma mengurangi produksi. Kami sedang mencari rencana baru yang akan membawa kami ke harga yang seimbang, yang membenarkan keberlanjutan investasi," ujar del Pino. (Sofyan)
Sumber Indopetronews.com
Venezuela Pacu Produksi Minyak Mentah
09.14Incar Proyek PLTG Jawa 1, Pertamina Gunakan Teknologi GE
01.38Jakarta - PT Pertamina (Persero) bersama Marubeni konsorsium (Independet Power Producer/IPP) menyepakati kerjasama eksklusif dengan General Electric (GE) untuk penyediaan teknologi Combined Cycle Gas Turbine IPP Jawa 1 berkapasitas 1.600 Mega Watt (MW).
Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro mengatakan, dipilihnya General Electric sebagai penyedia teknologi pada proyek IPP Jawa 1, menandai masuknya konsorsium Pertamina-Marubeni pada tahapan penting untuk mempersiapkan diri dalam tender IPP Jawa 1 oleh PT PLN (Persero).
"Kami optimistis dengan kesepakatan kerjasama eksklusif yang sudah terjalin antara konsorsium Pertamina-Marubeni dan General Electric," kata Wianda, di Jakarta, Minggu (13/3/2016).
General Electric akan menyediakan teknologi pembangkitan listrik CCGR paling mutakhir di dunia, yaitu 9HA. Teknologi yang telah terbukti dan banyak digunakan di dunia tersebut diyakini dapat meningkatkan efisiensi pembangkitan menjadi di atas 61 persen, sebagaimana banyak tersedia di pasar saat ini.
"General Electric telah menyatakan komitmen untuk memberikan dukungan maksimal kepada konsorsium, termasuk penyediaan teknologi yang paling advance dan efisien di dunia," tutur Wianda.
Proyek pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) IPP Jawa 1 akan menjadi yang terbesar di Indonesia dengan perkiraan investasi US$ 2 miliar (termasuk FSRU). Proyek tersebut juga merupakan bagian dari program 35 ribu MW. PT PLN (Persero), diinformasikan akan mulai membuka penawaran tender pada awal Mei 2016.
Konsorsium Pertamina-Marubeni juga telah menyepakati kerjasama dengan Samsung C&T sebagai penyedia jasa Engineering, Procurement, and Construction (EPC).
Bergabungnya pemain-pemain besar di industri pembangkitan listrik tersebut, kata Wianda, membuktikan keseriusan Pertamina sebagai leader dari konsorsium ini untuk mendukung pemerintah dan PLN merealisasikan proyek IPP Jawa 1 yang telah direncanakan.
"General Electric dengan teknologi mutakhirnya, Samsung C&T sebagai pelaksana EPC kelas dunia, dan Marubeni yang merupakan salah satu IPP terbaik global bersama-sama Pertamina yang merupakan National Energy Company Indonesia siap mendukung pemerintah untuk Program 35.000 MW khususnya IPP Jawa 1," kata Wianda. (Pew/Gdn)Liputan6.com
Pengembang, Pemerintah dan PLN Beda Tafsirkan Aturan
21.15Pemerintah Jokowi – JK menegaskan proyek program 35.000 MW harus dapat terealisasi dalam waktu 5 tahun. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Menyikapi program pemerintah, Komisaris Utama PT Pat Petulai Energi, Dony Gouw mengatakan masih ada beberapa masalah mengganjal yang membuat pembangunan menjadi terhambat.
“Masih banyak permasalahan, salah satunya adalah banyaknya peraturan yang bisa ditafsirkan berbeda- beda, dan juga adanya bentrok kepentingan antara pengembang, pemerintah dan PLN. Ini yang harus kita benahi bersama,” kata Dony kepada indoPetroNews.com Jumat (4/3/2016) di Jakarta.
Dony mengatakanseharusnya pemerintah harus bergerak lebih cepat terlebih lagi di era ekonomi yang sangat terbuka ini. Ia mengatakan Indonesia memiliki potensi EBT dalam jumlah sangat besar, salah satu potensi besar yang ada yakni air, diyakini mampu mendorong percepatan proyek listrik raksasa ini.
“Pemerintah harus gerak cepat untuk pembanguna ini, karena akan ada dampakya pada Masayarakat Ekonomi Asean yang sangat terbuka. Indonesia mempunyai potensi EBT yang sangat besar, salah satu potensi besar dan sudah banyak dibangun di dalam negeri adalah menggunakan energi air. Banyak keuntungan yang didapatkan dari pemanfaatan air, pertama, PLTA itu usianya bisa sangat panjang antara 50- 100 tahun, kapasitas daya keluaran PLTA relatif besar, kemudian teknologinya bisa dikuasai dengan baik oleh Indonesia, dan yang tidak kalah penting juga adalah bebas emisi karbon,” ujar Dony menjelaskan.
Salah satu Peraturan Menteri yaitu Peraturan Menteri No.19 tahun 2015 mengenai Pembelian Tenaga Listrik Dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Dengan Kapasitas Sampai Dengan 10 MW (Sepuluh Megawatt) oleh PT Perusahaan Listrik Negara, harga jual listrik dari Independent Power Producer (IPP) kepada PLN untuk tahun 1-8 adalah US$ 12 cent dan US$ 7,5 cent untuk tahun selanjutnya sampai dengan tahun ke 20.
PLN sebagai eksekutor sampai dengan saat ini belum dapat mengeluarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) dengan alasan belum adanya kejelasan subsidi dari Pemerintah, karena harga beli tersebut masih di atas dari harga jual mereka. Ditambah hal itu juga berdampak pada semakin berbelit-belit nya pengurusan awal syarat-syarat sebagai pengembang di PLN Wilayah.
Menyikapi hal ini, Direktur PT Klaai Dendan Lestari, Yogi Adhi Satria, memaparkan, pengembang memiliki ketertarikan untuk ikut berinvestasi dalam proyek listrik ini, akan tetapi ia melihat posisi pengembang terkesan “digantungkan” walaupun mereka telah mengeluarkan banyak dana untuk pengembangan. (Sofyan)INDOPETRONEWS.COM
Petrogasday UI, Mahasiswa Peduli pada Ancaman Krisis Energi Indonesia
22.07Event Petrogas day di Universitas Indonesia (UI) dimulai sejak Kamis, 3 - 5 Maret 2016 di Depok Jawa Barat. Memasang tajuk Advancing The Energy Development to Anticipate National Energy Crisis“.
Prof Dr Ir Widodo W Purwanto, dosen energy UI, dalam sambutannya mengatakan bahwa acara yang digagas mahasiswa ini menjadi momentum sekaligus bentuk kepedulian generasi muda pada keberlangsungan energy di masa mendatang. “Kita sangat support acara seperti ini,” kata Widodo.
Menurut Bimo, penyelenggara kegiatan, Petrogas Days UI merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia. “Pada tahun ini, Petrogas Days UI membawa pesan tentang krisis energy, “ kata Bimo kepada indoPetroNews.com Kamis (3/3/2016) di Depok.
Tema ini diangkat berdasarkan fakta bahwa Indonesia telah menunjukkan tanda-tanda krisis energi. Walaupun beberapa kebijakan telah ditegaskan, lanjut Bimo, tetapi dampak yang dihasilkan masih belum dapat dirasakan secara optimal karena kurangnya perhatian dari publik, khususnya kalangan mahasiswa.
Petrogas Days UI hadir sebagai forum pengembangan wawasan, memahami kondisi energi nasional dan perkembangannya, dan menggugah perhatian mahasiswa terkait topik tersebut.
Petrogas Days UI 2016 hadir dengan 4 rangkaian acara, yaitu seminar nasional. Selain seminar, juga diadakan 8th Chemical Product Design Competition (8th CPDC), 2nd Petronation (Petroleum Integrated Smart Competition) dan Student Energy Conference.
Seminar nasional ini, yang bakal diselenggarakan pada Sabtu (5/3/2016) merupakan merupakan sebuah seminar yang mengangkat tema besar Petrogas Days UI 2016 dan menghadirkan pembicara yang telah berkontribusi pada sektor energi nasional. Diantara pembicara yang akan tampil adalah Menteri ESDM Sudirman Said, Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, Darwin Silalahi CEO PT Shell Indonesia, Arief Budiman Direktur Keuangan Pertamina (Persero) dan lain sebagainya. (Sofyan)INDOPETRONEWS.COM






