Insiden Suporter Persija Dengan Polisi Akibat Kurangnya Koordinasi
JAKARTA - Insiden yang terjadi antara suporter Persija Jakarta dengan pihak kepolisian, disela laga klub sepakbola Persija Jakarta melawan klub Sriwijaya FC, pada Jumat malam (24/6) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), diduga akibat kesalahan koordinasi.
Pasalnya, polisi seperti kehilangan kendali atas pengamanan stadion kebanggaan warga DKI Jakarta tersebut. Sehingga menimbulkan banyak korban, baik dari kepolisian maupun suporter Persija. Diketahui Satu dari Enam orang polisi mengalami kritis. Dan masih dirawat secara intensif di Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Ketua Bidang Keamanan, Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Muhammad Arpan sangat menyayangkan peristiwa yang mencoreng wajah sepakbola Indonesia ini. Menurutnya selain dari sisi jumlah masa yang lebih banyak suporter dibandingkan dengan polisi yang bertugas mengamankan pertandingan, faktor Standard Operational Procedure (SOP) juga disinyalir menjadi faktor bentrokan berdarah tersebut.
“Yang jelas aparat kepolisian sepertinya tidak siap mengantisipasi adanya kerusuhan hingga penonton sampai bisa masuk lapangan,” kata M. Arpan, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (25/6)
Dalam ingatannya, ada Prosedur Tetap (protap) yang harus dilaksanakan polisi terkait pengamanan suatu perhelatan olahraga yang mendatangkan penonton, baik dengan jumlah yang banyak maupun sedikit.
Melihat kronologi peristiwa di GBK kemarin, Arpan justru bertanya-tanya, tentang apakah aparat kepolisian bekerja sesuai protap yang ada, baik sebelum pertandingan, pada saat pertandingan maupun sesudah pertandingan.
Sebab menurutnya, peristiwa serupa, pernah terjadi sebelumnya, saat Persija menjamu klub-klub lainnya di GBK. “Nah ini sudah seharusnya dijadikan evaluasi untuk pelaksanaan pertandingan Persija melawan Sriwijaya. Idealnya seperti itu,” ucapnya.
Hal senada juga disampaikan mantan Manager klub sepakbola PSMS Medan, Benny Tomasoa. Ia berpendapat kejadian ini sangat merugikan sepak bola di Indonesia, khusunya bagi Persija. "Harusnya hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi," ujar Benny melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (25/6).
Menurut Benny seharusnya panitia penyelenggara mengantisipasi antara jumlah petugas dan penonton. "Biasanya kelompok suporter dan panitia penyelenggara biasanya sudah berkordinasi dan suporter biasanya cukup terkordinir oleh ketua basis masing masing," katanya.
Benny menceritakan pengalamannya saat mengarsiteki PSMS Medan pada Liga Super yang lalu. Dirinya kerap melakukan koordinasi dan pendekatan-pendekatan terhadap kelompok suporter. “Biasanya kelompok ini kerap berbeda pendapat,” ungkapnya.
Seperti kita ketahui bahwa PSMS Medan memiliki tiga kelompok suporter, antara lain, Smeck, Medan Fans Club, dan Ayam Kinantan. Untuk mengantisipasi kerusuhan, pihaknya selalu melakukan pendekatan terhadap ketiga kelompok suporternya, sebelum pertandingan berlangsung.
Untuk itu Benny meminta agar manajemen Persija bertanggungjawab terhadap insiden ini. Hukum sepakbola harus ditegakkan, agar tidak terjadi lagi kejadian yang serupa.
Mengkaji lebih jauh, Benny mengatakan fenomena kebrutalan para suporter belakangan ini, bisa juga merupakan bentuk kekesalan para pecinta sepakbola tanah air, karena persoalan PSSI yang tak kunjung selesai. Sehingga secara psikologis membuat para suporter menunggu kompetisi yang sesungguhnya. "Mungkin ada kaitannya kesana. Untuk itu perhatian pemerintah, dalam hal ini Kemenpora wajib menuntaskannya," pungkasnya.(Hasim)

