Pengungsi Suriah (Foto: Telegraph)
JENEWA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengurangi bantuan untuk para pengungsi yang keluar dari peperangan di Suriah. Pengurangan ini disebabkan karena PBB tidak memiliki dana lagi untuk mengurusi pengungsi Suriah.
"Kebutuhan melonjak dengan cepat dan kami bangkrut. Di beberapa negara, banyak operasi kami yang mulai menurunkan level aktivitas untuk penghematan, kecuali kami mendapatkan dana," ujar juru bicara UNICEF Marixie Mercado, seperti dikutip The New York Times, Sabtu (6/4/2013).
Peringatan PBB itu dikeluarkan setelah Presiden Bashar Al-Assad mengutarakan akan terjadi eksodus besar-besaran dari Suriah, bila negara itu terlibat perang lebih besar atau jatuh ke tangan teroris. Diperkirakan, warga Suriah akan menyelamatkan diri ke negara tetangga dan membuat pengungsian bertambah.
Assad yang biasa menyebut pihak oposisi sebagai kelompok teroris, sepertinya mencoba untuk meningkatkan kekhawatiran warganya. Selain itu, dirinya juga memperingatkan negara-negara yang mendukung pihak oposisi, seperti Amerika Serikat (AS), bahwa kelompok oposisi bisa menganggu stabilitas kawasan.
Tetapi selama peperangan yang terjadi selama dua tahun, arus pengungsi terus membludak keluar dari Suriah. Arus pengungsi ini justru mempersulit negara tetangga, di saat pihak Assad dan oposisi terus mempertahankan ego mereka.
PBB sebelumnya mengeluarkan laporan yang menyebutkan jumlah korban jiwa akibat peperang yang terus meningkat. Hingga kini, jumlah korban tewas diperkirakan menyentuh angka 70 ribu.
"Kebutuhan melonjak dengan cepat dan kami bangkrut. Di beberapa negara, banyak operasi kami yang mulai menurunkan level aktivitas untuk penghematan, kecuali kami mendapatkan dana," ujar juru bicara UNICEF Marixie Mercado, seperti dikutip The New York Times, Sabtu (6/4/2013).
Peringatan PBB itu dikeluarkan setelah Presiden Bashar Al-Assad mengutarakan akan terjadi eksodus besar-besaran dari Suriah, bila negara itu terlibat perang lebih besar atau jatuh ke tangan teroris. Diperkirakan, warga Suriah akan menyelamatkan diri ke negara tetangga dan membuat pengungsian bertambah.
Assad yang biasa menyebut pihak oposisi sebagai kelompok teroris, sepertinya mencoba untuk meningkatkan kekhawatiran warganya. Selain itu, dirinya juga memperingatkan negara-negara yang mendukung pihak oposisi, seperti Amerika Serikat (AS), bahwa kelompok oposisi bisa menganggu stabilitas kawasan.
Tetapi selama peperangan yang terjadi selama dua tahun, arus pengungsi terus membludak keluar dari Suriah. Arus pengungsi ini justru mempersulit negara tetangga, di saat pihak Assad dan oposisi terus mempertahankan ego mereka.
PBB sebelumnya mengeluarkan laporan yang menyebutkan jumlah korban jiwa akibat peperang yang terus meningkat. Hingga kini, jumlah korban tewas diperkirakan menyentuh angka 70 ribu.
