JurnalisRakyat-Di Eropa memang banyak komunitas berkarakter muslim, entah itu Turki,
Aljazair, Albania, Bosnia atau Pakistan dan Iran. Namun mereka berbicara
dalam bahasa yang berbeda-beda, memiliki latar budaya dan tradisi
keagamaan yang juga berbeda-beda. Kerem Öktem dari Universitas Oxford
menekankan, tidak mungkin atau tidak perlu menetapkan sebuah bentuk
terpadu Islam untuk seluruh Eropa, karena "Ada terlalu banyak keragaman
yang harus dipertimbangkan."
Karena itu tidak realistis bila mengharapkan bahwa sebuah tradisi islam, entah itu Bosnia atau lainnya, diambil sebagai model masa depan bagi semua muslim di Eropa. Öktem yakin, kelak ada model yang berbeda di masing-masing negara. Namun memiliki ciri khas yang sama, kata Adam Was. Islam dengan karakter Eropa, yang berbeda dengan islam di Afrika atau Asia Tenggara misalnya. Terkait kontekstualisasi sebuah agama, rumusnya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.
Islam dengan karakter Eropa, kata Adam Was, menghargai demokrasi, HAM dan kebebasan beragama. Itu berarti, diperlukan proses interpretasi ulang Al Quran, penafsiran baru terhadap ayat-ayat suci, kata Was. Ia menambahkan, "Muslim yang sudah berabad-abad hidup di Eropa juga bisa memberi kontribusi dalam hal itu."(AD/DW)
Sumber : dw.com
Karena itu tidak realistis bila mengharapkan bahwa sebuah tradisi islam, entah itu Bosnia atau lainnya, diambil sebagai model masa depan bagi semua muslim di Eropa. Öktem yakin, kelak ada model yang berbeda di masing-masing negara. Namun memiliki ciri khas yang sama, kata Adam Was. Islam dengan karakter Eropa, yang berbeda dengan islam di Afrika atau Asia Tenggara misalnya. Terkait kontekstualisasi sebuah agama, rumusnya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.
Islam dengan karakter Eropa, kata Adam Was, menghargai demokrasi, HAM dan kebebasan beragama. Itu berarti, diperlukan proses interpretasi ulang Al Quran, penafsiran baru terhadap ayat-ayat suci, kata Was. Ia menambahkan, "Muslim yang sudah berabad-abad hidup di Eropa juga bisa memberi kontribusi dalam hal itu."(AD/DW)
Sumber : dw.com

